JAYAPURA
Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan pemerintah daerah mengajak tokoh agama untuk turut meredam konflik rasialis di tanah Papua.
“Harapannya tokoh agama menjadi cooling factor, faktor pendingin, setelah konflik yang terjadi kemarin,” ujar Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian, dalam pertemuan dengan tokoh lintas agama Provinsi Papua, Jumat, di Jayapura.
Tito mengatakan tokoh agama memiliki pengaruh nomor satu bagi masyarakat Papua, menyusul kemudian birokrat, ketua, dan tokoh adat.
Pengetahuan agama dan kharisma yang dimiliki oleh tokoh agama, lanjut Tito, terus berpengaruh, meski kemudian mereka tak lagi menjabat dalam struktur keagamaan.
“Namun ketika agama dipergunakan untuk kepentingan politik, itu menjadi sangat berbahaya, massa saling membangun, mengasihi, tapi juga membunuh satu sama lain, atas nama Tuhan yang sama,” urai Tito.
Panglima Tentara Nasional Indonesia Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan tokoh agama merupakan komponen bangsa yang penting untuk menjaga kerukunan di nusantara.
Tokoh agama, lanjut Hadi, mampu membentuk karakter sumber daya manusia yang unggul dan menciptakan kedamaian.
“Panglima perang di gunung pun kalau pakai bahasa kalbu dari tokoh agama akan luluh, kontak senjata tidak akan terjadi,” ujar Hadi.
Ketua Bidang Kerukunan Umat Majelis Ulama Papua Saifullah mengatakan ke depan tak perlu ada istilah pendatang atau putra daerah.
Istilah itu, lanjut Saifullah, amat menakutkan dan berpotensi memicu konflik di Papua.
Toh semua pihak di kota ini, imbuh Saifullah, sudah saling bergantung dan membantu satu sama lain.
“Ke depan mari kita mencari kata lain yang lebih tepat untuk menyebut itu [pendatang dan putra daerah],” kata Saifullah.
Sepakat berdampingan secara damai
Sementara itu Kepala Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua Pdt. Lipiyus Biniluk mengatakan tokoh agama di Papua terus mengimbau jemaatnya agar menciptakan kerukunan dan kedamaian.
Tokoh agama, lanjut Lipiyus, juga mengimbau agar jemaat tak terprovokasi pada informasi hoaks yang mengadu domba.
“Tak boleh ada lagi darah tertumpah di tanah Papua,” tegas Lipiyus.
Pertemuan ini, tutur Lipiyus, merupakan hasil sinergitas yang dilakukan berbagai pihak, termasuk tokoh agama, sejak konflik yang kemarin terjadi.
FKUB, kata Lipiyus, akan terus menggelar pertemuan untuk memantau perkembangan yang terjadi.
“Setelah ini kita tidak usah kembali ke belakang, mulai sekarang kita bicara bagaimana ke depan, apa yang akan kita kerjakan,” ujar Lipiyus.
Pertemuan serupa juga dilakukan dengan perwakilan masyarakat pendatang pada Kamis malam di Jayapura.
Dalam acara Deklarasi Kesepakatan Bersama dalam rangka menjaga Papua Tanah Damai itu, Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan setiap orang memiliki kesempatan tinggal di Papua.
“Kita sudah sepakat untuk hidup berdampingan di Provinsi Papua,” kata dia.
Lukas berjanji untuk terus menciptakan keamanan di tanah Papua, baik bagi masyarakat lokal maupun pendatang.
“Siapapun dia, berasal dari golongan mana pun, dia memiliki hak untuk tinggal di seluruh wilayah nusantara,” kata dia.
news_share_descriptionsubscription_contact

