Maria Elisa Hospita
11 November 2019•Update: 11 November 2019
Vakkas Dogantekin, Ali Murat Alhas
ANKARA
Presiden Bolivia Evo Morales resmi mengundurkan diri pada Minggu, tak lama setelah kepala angkatan bersenjata negara itu memintanya untuk mundur.
"Saya mengundurkan diri dari jabatan saya sebagai presiden," kata Morales dalam pidato yang disiarkan televisi.
Dalam pidatonya, dia mengecam "sistem kapitalis" dan bertekad untuk terus memperjuangkan demokrasi Bolivia.
Morales menekankan bahwa dia mengambil keputusan itu agar lawan politiknya berhenti mengusik keluarga dan properti anggota Movement for Socialism (MAS) yang berkuasa.
Dia juga menyebut pengunduran dirinya sebagai "kudeta" sekaligus mencela orang-orang yang menargetkan demokrasi dan perdamaian sosial di negara itu.
"Ini tidak akan berakhir di sini," tegas Morales, yang menegaskan bahwa dia akan terus berjuang untuk perdamaian dan kesetaraan.
Pasca intervensi militer, Wakil Presiden Bolivia Alvaro Garcia Linera juga mengundurkan diri. Dia mengklaim adanya "kekuatan gelap dan asing" yang mengatur kudeta.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Panglima Angkatan Darat William Kaliman mendesak Morales untuk mengundurkan diri guna memulihkan keamanan di negara itu.
Sebelumnya, pada hari itu, Morales menyerukan pemilihan umum untuk mengatasi tuduhan kecurangan selama pemungutan suara.
Bolivia telah terperosok dalam krisis politik menyusul dugaan manipulasi jumlah suara dalam pemilihan presiden yang digelar 20 Oktober lalu.
Morales yang telah menjabat sebagai presiden sejak 2006, kembali mengamankan posisinya di putaran pertama dengan perolehan 47,8 persen suara.
Carlos Mesa, pemimpin oposisi utama dari Partai Revolutionary Left Front, bersikukuh tidak akan mengakui kemenangan Morales.