JAKARTA
Kantor Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (FPO) Thailand merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 2,8 persen dari 3 persen karena penurunan ekspor.
Revisi ini tetap dilakukan meski sudah ada paket stimulus sebesar THB316 miliar untuk menggenjot permintaan domestik.
Tahun ini, ekspor Thailand diperkirakan turun 2,5 persen, lebih dalam dari perkiraan sebelumnya yang hanya 0,9 persen.
Ini terjadi karena pengaruh perlambatan ekonomi global dan ketegangan perdagangan antara AS dan Cina, ujar Lavaron Sangsnit, direktur jenderal lembaga think tank di Kementerian Keuangan itu.
FPO memperkirakan ekonomi Thailand akan tumbuh 3,3 persen tahun depan, dengan asumsi ekspor tumbuh 2,6 persen.
Perkiraan pertumbuhan ekonomi terbaru FPO ini sejalan dengan proyeksi Bank of Thailand sebesar 2,8 persen tahun ini dan 3,3 persen berikutnya.
Ekonomi Thailand tumbuh masing-masing sebesar 2,8 persen dan 2,3 persen pada kuartal pertama dan kedua. Sementara tahun lalu ekonomi tumbuh 4,1 persen.
Lavaron mengatakan pertumbuhan konsumsi swasta diperkirakan naik 3,8 persen pada 2019 dan 3,5 persen tahun depan, sementara investasi swasta akan meningkat 2,7 persen tahun ini dan 4,6 persen pada 2020, didorong oleh paket stimulus.
Konsumsi masyarakat juga akan tumbuh 2 persen tahun ini dan 2,5 persen berikutnya. Sementara investasi pemerintah akan meningkat 1,4 persen tahun ini sebelum naik menjadi 6,6 persen pada 2020.
Pertumbuhan ekonomi Thailand diperkirakan akan berada pada 3,1 persen untuk enam bulan hingga Desember, naik dari 2,6 persen pada semester pertama, kata Lavaron.
Menurut dia, langkah-langkah stimulus pemerintah akan berkontribusi pada pertumbuhan yang lebih tinggi di semester kedua.
Lebih dari THB60 miliar dari paket stimulus diperkirakan akan disuntikkan ke dalam perekonomian, kata dia.
"Langkah-langkah stimulus harus memberikan dorongan besar bagi pertumbuhan ekonomi di babak kedua," kata Lavaron seperti dikutip dari Bangkok Post.
"Sekitar 51 miliar baht dialokasikan untuk paket bantuan bagi petani, termasuk skema jaminan pendapatan dan subsidi. Paket stimulus menambah 60 miliar baht ke dalam sirkulasi."
Menurut dia, pemerintah perlu mengawasi ketidakpastian global yang terjadi termasuk perselisihan perdagangan AS dan China serta Brexit. Selain itu yang juga perlu diwaspadai adalah perlambatan ekonomi China dan manuver kebijakan moneter negara-negara maju.
Sementara jumlah wisatawan asing diperkirakan naik menjadi 39,8 juta tahun ini, sebagian karena perpanjangan pembebasan biaya visa-on-arrival, kata Lavaron.
Pisit Puapan, direktur Biro Kebijakan Ekonomi Makro FPO, mengatakan perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini didasarkan pada asumsi bahwa ekonomi negara mitra dagang akan berkembang 3,3 persen, turun dari 3,5 persen sebelumnya.
FPO juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mitra dagang akan stabil di 3,3 persen pada 2020.
Menurut dia, belanja pemerintah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Thailand, dengan rasio pencairan 98 persen untuk anggaran reguler dan 70,3 persen untuk anggaran investasi pada fiskal 2019.
news_share_descriptionsubscription_contact



