Fatih Hafiz Mehmet
ANKARA
Rezim Assad di Suriah sedang menjalankan operasi ‘psikologis’, ujar Presiden Turki pada Jumat, di tengah laporan penyebaran pasukan rezim ini ke wilayah utara.
"Kami tahu Suriah berada dalam aksi psikologis. Kami tahu ada pengibaran bendera (rezim) mereka di sana. Tetapi belum ada yang pasti di sana,” kata Recep Tayyip Erdogan, menanggapi laporan pasukan rezim yang memasuki wilayah barat laut Manbij untuk berkoordinasi dengan kelompok teror YPG/PKK.
Berbicara kepada wartawan usai salat Jumat, Erdogan mengatakan tujuan Turki adalah memberi pelajaran pada kelompok teror YPG/PKK, dan Turki bertekad mewujudkannya.
"Kami menentang pemisahan Suriah. Tujuan kami membuat kelompok-kelompok teroris pergi dari sana. Jika kelompok-kelompok [teroris] itu pergi, maka tidak ada pekerjaan yang tersisa bagi kami," tegas dia.
Pembicaraan Suriah di Rusia pada Sabtu
Erdogan juga mengatakan delegasi berpengaruh Turki, termasuk menteri luar negeri, menteri pertahanan, dan kepala intelijen akan mengunjungi Moskow pada Sabtu pagi untuk membahas situasi di Suriah, termasuk Manbij.
Setelah itu, kata Erdogan, ia akan berbicara melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan berkemungkinan mengunjungi Moskow atau Sochi.
“Kita harus membahas masalah ini dengan sangat serius," tegas Erdogan.
Pada 1 November lalu, sebelum Amerika Serikat mengumumkan penarikan pasukan dari Suriah, pasukan Turki dan AS telah memulai patroli bersama di Manbij sebagai bagian dari perjanjian penarikan teroris YPG/PKK dan menstabilkan kawasan tersebut.
Selama lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK -yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa- bertanggung jawab atas kematian sekitar 40 ribu orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Sementara YPG merupakan cabang dari PKK di Suriah.
Erdogan mengisyaratkan bahwa operasi lintas batas terhadap teroris PYD/YPG di Suriah akan segera dilaksanakan. Ankara telah berhasil melakukan dua operasi militer serupa di Suriah utara sejak 2016.
Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan pada pekan lalu, bahwa AS akan menarik tentaranya dari Suriah.
Keputusan itu dibuat Trump usai berbincang dengan Erdogan melalui telepon, di mana kedua pemimpin sepakat perlu koordinasi yang lebih efektif terkait negara yang dianda perang saudara itu.
Pasukan AS di Suriah telah bekerja sama dengan kelompok YPG/PKK untuk melawan Daesh, bertentangan dengan keberatan Turki bahwa menggunakan satu kelompok teroris untuk melawan yang lain tidak masuk akal.
Keputusan ‘penting’ Pakistan pada kelompok teror
Terkait kabar bahwa Pengadilan Tinggi Pakistan telah menetapkan Organisasi Teroris Fetullah (FETO) -kelompok di balik kudeta yang gagal di Turki pada 2016- sebagai ‘terrorist outfit’, Erdogan mengatakan keputusan itu “sangat penting”.
Erdogan mengatakan langkah selanjutnya ialah memproses penyerahan bekas sekolah terkait FETO ke Yayasan Maarif Turki.
"Sekarang sudah mulai. Proses transisi ke Yayasan Maarif memiliki kepentingan yang sangat besar," tegas dia.
Sebelumnya pada Jumat, pengadilan memutuskan agar Pemerintah Pakistan menyatakan FETO sebagai kelompok teror dan melarang organisasi itu menjalankan sekolah di negara tersebut.
Pengadilan juga mengarahkan lembaga keuangan negara untuk segera membekukan rekening bank dari yayasan yang terkait FETO dan mentransfer aset-aset itu ke Yayasan Maarif.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen, mengatur kudeta yang akhirnya gagal pada 15 Juli 2016 di Turki. Upaya kudeta itu menyebabkan 251 orang mati syahid dan hampir 2.200 orang terluka.
Ankara menuduh FETO berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi lembaga-lembaga Turki, termasuk militer, kepolisian, dan sekolah.
Kehadiran FETO juga terasa cukup besar di luar Turki, mencakup lembaga pendidikan swasta sebagai aliran pendapatan bagi kelompok teroris.
Turki mendirikan Yayasan Maarif pada 2016 untuk mengambil alih administrasi sekolah luar negeri yang terhubung dengan FETO. Yayasan ini juga mendirikan sekolah dan pusat pendidikan di luar negeri.
Erdogan juga mengatakan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang kini berkuasa akan mengumumkan kandidat untuk Wali Kota Istanbul pada Sabtu.
Pos tersebut merupakan kunci, mengingat hampir seperlima populasi Turki tinggal di Istanbul.
Pemilihan daerah di Turki dijadwalkan pada 31 Maret mendatang.