İqbal Musyaffa
07 Desember 2018•Update: 07 Desember 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia mengatakan inflasi hingga minggu awal Desember masih terjaga sebesar 0,3 persen month to month berdasarkan survei pemantauan harga.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan apabila inflasi Desember bertahan di level tersebut, maka inflasi year to date menjadi 2,81 persen begitu pun dengan inflasi year on year akan berada di level yang sama.
“Inflasi Desember akibat kenaikan harga beberapa komoditas,” jelas Mirza seusai salat Jumat.
Komoditas yang mengalami kenaikan harga, menurut dia, antara lain telur ayam ras sebesar 8,5 persen, bawang merah 6,6 persen, wortel 11,6 persen, dan kacang panjang 7,1 persen.
Sementara komoditas yang mengalami deflasi adalah ikan-ikanan seperti ikan kembung deflasi 0,54 persen dan ikan basah 0,32 persen.
“Bank Indonesia bersama pemerintah pusat dan daerah terus berusaha menjaga inflasi sampai akhir tahun,” tegas Mirza.
Inflasi bulan Desember menurut Mirza, sangat penting karena mendekati akhir tahun dan juga ada perayaan Natal.
Belanja masyarakat menjelang Natal dan pergantian tahun, lanjut Mirza, biasanya lebih banyak.
“Aktivitas ekonomi juga lebih banyak. Makanya kita perlu menjaga inflasi barang-barang khususnya makanan supaya tetap rendah,” urai dia.
Mirza menjelaskan apabila inflasi bisa terjaga, maka salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan suku bunga bisa dikendalikan.
Faktor lain yang akan memengaruhi suku bunga adalah volatilitas nilai tukar (kurs).
“Kalau kurs faktor yang memengaruhinya adalah situasi ekspor impor barang dan jasa kita yang masih defisit,” ucap dia.
Dia menuturkan apabila defisit perdagangan meningkat di tengah peningkatan suku bunga, maka akan menimbulkan volatilitas kurs yang lebih besar di Indonesia.
“Paling tidak kalau kita bisa mengendalikan inflasi, maka salah satu faktor penting yang menentukan suku bunga sudah bisa kita tekan,” ungkap Mirza.