Hayati Nupus
23 September 2018•Update: 24 September 2018
Ekip
TEHERAN
Jumlah korban tewas dan terluka dalam serangan bersenjata yang menargetkan pawai militer di sebelah barat daya Kota Ahwaz Iran pada Sabtu naik menjadi 25 orang tewas dan 60 cedera, menurut kantor berita resmi Iran IRNA.
Sebelumnya, pada hari yang sama, media lokal Iran melaporkan terdapat 24 orang tewas dan 53 terluka akibat serangan itu, termasuk anggota Garda Revolusi Iran. Juga wartawan bernama Yunus Purhulu termasuk di antara mereka yang tewas.
Korban terluka itu termasuk seorang perempuan dan anak, menurut laporan IRNA sebelumnya.
Media lokal Iran melaporkan bahwa laki-laki bersenjata mengenakan seragam militer menembaki pasukan Iran selama parade militer, serangan berlangsung sekitar 10 menit.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, mengumumkan bahwa "tiga teroris tewas" di lokasi serangan itu, sementara satu lainnya tewas di rumah sakit, lapor IRNA.
Shekarchi menyebutkan dalam pernyataan sebelumnya bahwa tiga teroris itu dibunuh oleh pasukan keamanan, sementara satu lainnya ditangkap.
“Teroris yang direkrut, dilatih, dipersenjatai, dan dibayar rezim asing telah menyerang Ahvaz. Anak-anak dan jurnalis menjadi korban. Iran memiliki sponsor teror regional dan tuan-tuan mereka di AS bertanggung jawab atas serangan itu. Iran akan merespons dengan cepat dan tegas demi mempertahankan kehidupan Iran," cuit Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif lewat akun Twitternya.
Menurut Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA), juru bicara Pasukan Revolusi Islam (IRGC) Ramezan Sharif mengatakan "Serangan beberapa elemen kelompok al-Ahvaziya yang diberi makan oleh Arab Saudi, bertujuan untuk menutupi kemegahan pawai pasukan bersenjata Iran. "
Namun, organisasi teroris Daesh mengklaim bertanggung jawab atas serangan Sabtu itu, lewat situs elektroniknya "Amaq".
Melalui situs Amaq, Daesh mengklaim bahwa Presiden Iran Hassan Rouhani menghadiri parade militer yang ditargetkan.
Namun situs web itu belum mengunggah rekaman atau video serangan itu.
Otoritas Iran "sementara waktu" menutup dua penyeberangan perbatasan dengan Irak, menurut seorang pejabat bea cukai Irak yang berbicara kepada Anadolu Agency dengan syarat anonimitas.
Dua penyeberangan perbatasan yang dimaksud adalah Shalamjah (bersebelahan dengan pemerintah Basra Irak) dan Al-Shib (bersebelahan dengan pemerintah Maysan Irak).