Muhammad Nazarudın Latıef
11 Februari 2020•Update: 11 Februari 2020
JAKARTA
Pelaku pasar optimistis wabah virus korona tidak akan membawa pengaruh ekonomi jangka panjang bagi Indonesia, hanya efek jangka pendek yang tidak berlangsung lama.
“Wabah memang ada pengaruh, tapi jangka pendek. Tidak terlalu ada hubungan antara wabah dan perekonomian,” ujar Head of Investment Spesialist PT Manulife Aset Management Indonesia Freddy Tedja, di Jakarta, Selasa.
Menurut dia saat infeksi saluran pernafasan akut (SARS) mewabah di China pada 2003, indek saham Asia Pasifik sempat turun hingga 5,5 persen. Namun tiga bulan kemudian, indeks rebound 16 persen dan enam bulan melejit hingga 35 persen.
Begitu juga saat wabah pernafasan Timur Tengah MERS, indeks saham Asia Pasifik naik 1,3 persen, namun tiga bulan kemudian indeks rebound 7,4 persen dan enam bulan kemudian kembali naik 2,4 persen.
Produk Domestik Bruto (PDB) kedua negara tersebut juga tidak terlalu berdampak. Arab Saudi sempat turun, namun setahun kemudian pulih, ujar Freddy.
Kalangan bisnis memang merasa khawatir mengingat China sebagai negara importir terbesar produk Indonesia terganggu perekonomiannya.
Banyak perusahaan di China menutup aktivitasnya, sehingga menimbulkan kekhawatiran penurunan permintaan dari Indonesia seperti batu bara, gas dan kelapa sawit, ujar Freddy.
Demikian juga dalam perdagangan saham. Dalam situasi seperti ini biasanya saham dari perusahaan penerbangan, hotel dan agen perjalanan akan turun.
Namun sebaliknya perusahaan farmasi akan menikmati kenaikan nilai saham.
Ekonomi 2020 tetap prospektif
Secara umum perekonomian tahun ini akan lebih baik dibanding tahun lalu terutama karena penurunan ketegangan dagang Amerika Serikat-China.
Katarina Setiawan, Chief Economist dan Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia mengatakan kondisi ini akan membuat iklim investasi lebih kondusif, arah kebijakan The Fed juga lebih jelas dan terarah karena kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga sepanjang tahun.
“Arus modal dari investor global ke negara-negara emerging market terutama Asia akan besar, termasuk Indonesia. Apalagi laba korporasi tahun ini diperkirakan makin tinggi, ini akan mendukung pasar saham Indonesia.”
IHSG bisa sampai level 7.000
Freddy memproyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun ini bisa mencapai level 7.050-7.100 hingga akhir tahun.
Proyeksi ini mempertimbangkan laba emiten (earning growth) yang diramal bakal tumbuh di kisaran delapan hingga 10 persen pada 2020 ini.
Freddy mengakui outlook pertumbuhan IHSG tahun ini memang mengulang prediksi tahun lalu. Namun saat itu pergerakan indeks saham mengalami fluktuasi mulai dari laba emiten hingga macetnya aktivitas ekonomi domestik sehingga tidak tercapai.
“IHSG di akhir tahun itu 6.300 ditambah 8-10 persen earning growth, akan jadi di level 7.000-an,” ujar dia.
Freddy yakin, prediksi tahun ini tercapai karena sejumlah penghambat pertumbuhan sudah bisa dilewati. Seperti perang dagang yang mulai reda, dan stabilitas kondisi politik karena sudah melewati masa Pemilihan Presiden.
Selain itu, Bank Indonesia juga mendorong dengan penurunan suku bunga acuan yang diperkirakan bisa dilakukan dua kali lagi.