Iqbal Musyaffa
06 Januari 2021•Update: 07 Januari 2021
JAKARTA
Defisit anggaran dalam APBN 2020 hingga akhir tahun mencapai Rp956,3 triliun atau 92 persen dari target sebesar Rp1.039,2 triliun seperti tercantum dalam Perpres No 72/2020.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan defisit tersebut setara dengan 6,09 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Dia mengatakan defisit anggaran tahun ini lebih besar bila dibandingkan dengan periode tahun lalu, sebesar Rp348,7 triliun atau setara 2,2 persen dari PDB.
“Namun, angka defisit ini lebih rendah Rp82,9 triliun dari yang kita tulis dalam Perpres 72/2020,” ujar Menteri Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual, Rabu.
Dia merinci pendapatan negara hingga akhir 2020 terealisasi Rp1.633,6 triliun atau turun 16,7 persen dibandingkan 2019.
Realisasi penerimaan negara tersebut hanya mencapai 96,1 persen dari target Rp1.699,9 triliun.
“Itu adalah shock yang terjadi karena kombinasi antara penerimaan pajak yang turun dan insentif yang kita berikan untuk membantu sektor usaha,” kata Menteri Sri Mulyani.
Sementara itu, realisasi belanja negara sebesar Rp2.589,9 triliun, tumbuh 12,2 persen dari periode yang sama tahun lalu.
Realisasi belanja tersebut mencapai 94,6 persen dari target Rp2.739,2 triliun.
“Peningkatan belanja terutama untuk belanja pemerintah pusat yang naik hingga 22,1 persen dibandingkan realisasi 2019,” ujar dia.
“Artinya pemerintah pusat tahun ini belanja 1.827,4 triliun,” tambah dia.
Menteri Sri Mulyani mengatakan berdasarkan data tersebut, keseimbangan primer mengalami defisit Rp642,2 triliun atau mencapai 91,7 persen dari target defisit sebesar Rp700,4 triliun.
Defisit keseimbangan primer tersebut tumbuh 778,1 persen dari Desember 2019.
Dia mengatakan APBN 2020 bekerja luar biasa sehingga harus terus dijaga karena tidak mungkin harus mengalami tekanan besar secara terus menerus.