İqbal Musyaffa
16 April 2018•Update: 16 April 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemerintah RI optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I lebih besar ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan perekonomian Indonesia pada triwulan I akan tumbuh 5,2 persen, lebih besar ketimbang periode serupa tahun sebelumnya yang hanya 5,01 persen.
Menteri Sri mengatakan beberapa momentum sepanjang 2018 mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia. Pertama, meningkatnya penerimaan negara dibandingkan triwulan I tahun lalu dengan total penerimaan Rp333,77 triliun.
Kedua, ujar Menteri Sri, tingkat inflasi triwulan I terjaga di angka 3,4 persen dari target inflasi sepanjang tahun di angka 3,5 persen.
Kemudian, kinerja perdagangan Indonesia juga menurut dia terus membaik.
Pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan tumbuh 3,9 persen hingga 4,1 persen, menurut Menteri Sri, juga menunjang meningkatnya permintaan komoditas unggulan Indonesia, selain juga adanya perbaikan harga komoditas.
“Ini juga menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ungkap Menteri Sri.
Kemudian, Menteri Sri menambahkan, faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah terus membaiknya peringkat utang Indonesia di mata lembaga pemeringkat internasional.
Akhir pekan lalu Moody’s memberikan kenaikan peringkat utang bagi Indonesia dari Baa3 positive outlook, menjadi Baa2 stable outlook atau setara dengan level BBB.
Arti dari kenaikan peringkat utang tersebut berdasarkan definisi rating Moody’s adalah surat berharga yang diterbitkan oleh Indonesia ada dalam kategori moderate credit risk dan medium grade.
Sementara stable outlook menggambarkan posisi rating yang akan stabil dalam beberapa waktu ke depan, serta menunjukkan risiko yang berimbang.
“Pemerintah menyambut baik kenaikan peringkat itu karena mampu memberikan efek penurunan bagi yield dari surat utang yang diterbitakan pemerintah,” ujar Menteri Sri.
Menteri Sri menambahkan, dengan perbaikan peringkat utang Indonesia oleh Moody's, kini yield Indonesia sudah turun hingga 5 bps untuk surat utang berdenominasi rupiah, 2 bps untuk Euro, dan 0,5 bps untuk USD.
Menurut dia, penurunan itu langsung terjadi setelah Moody's merilis hasil kenaikan peringkat utang.
Pada saat S&P memperbaiki peringkat utang Indonesia pada Mei 2017 lalu, yield untuk surat utang berdenominasi rupiah, menurut dia, juga turun hingga 12 bps, USD 9 bps, dan Euro 3 bps.
Sementara pada waktu Fitch mengumumkan peringkat utang Indonesia Desember 2017, beban utang turun dengan bunga yield USD 1 bps, Euro 0,5bps, dan Rupiah 10 bps.
“Efek positif juga didapat para perusahaan pelat merah yang melakukan penerbitan surat utang dengan menurunnya yield surat utang Indonesia,” lanjut dia.
Sri Mulyani menegaskan perbaikan rating utang Indonesia dari lembaga Moody's merupakan konfirmasi bahwa pemerintah telah memperbaiki kredibilitas dan efektivitas ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pembangunan, pertumbuhan lapangan kerja, dan pengurangan tingkat kemiskinan dan kesenjangan sosial.
"Ini adalah salah satu capaian yang tentu kita syukuri dan akan kerja keras lagi agar lebih baik," ungkap Menteri Sri.
Momentum Pertumbuhan ekonomi menurut dia akan terus berlanjut pada triwulan II dengan adanya momentum puasa dan hari raya Iedul Fitri.
Kemudian pada Triwulan III terdapat momentum Asian Games yang dapat menunjang pertumbuhan.
Begitupun pada triwulan IV pertumbuhan ekonomi akan terdorong dengan adanya penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF dan World Bank Oktober mendatang.