İqbal Musyaffa
24 September 2018•Update: 25 September 2018
Iqbal Musyaffa
Indonesia fokus menyasar dua sektor industri halal untuk dikembangkan, yakni makanan halal dan busana halal.
Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia Anwar Bashori dalam diskusi di Jakarta, Senin, mengatakan kedua sektor tersebut menyimpan potensi ekonomi yang besar.
Secara global, industri makanan halal pada 2016 memiliki nilai ekonomi USD1,2 triliun dan terus meningkat menjadi USD1,9 triliun pada tahun 2022. Sementara potensi ekonomi dari busana halal (syar’i) pada 2016 sebesar USD254 miliar dan berpeluang tumbuh hingga USD373 miliar pada 2022.
“Kalau dua sektor itu kita kembangkan dan tidak perlu impor, maka akan sangat membantu perekonomian nasional,” ungkap Anwar.
Dengan fokus mengembangkan makanan dan busana halal, maka Indonesia menurut dia, bisa menjadi basis produksi dan bukan hanya menjadi pasar industri halal global.
Dia mengatakan makanan halal di Indonesia sebenarnya sudah berkembang. Tidak sulit mencari makanan halal di Indonesia. Namun, makanan halal Indonesia justru kalah menarik dengan Jepang, Korea, dan bahkan Australia.
“Turis-turis dari Timur Tengah justru banyak yang tertarik ke negara-negara tersebut untuk wisata kuliner karena mereka memiliki sertifikasi yang jelas untuk makanan halal,” ungkap Anwar.
Indonesia menurut Anwar, juga sedang mengarah pada sertifikasi makanan halal untuk semakin menarik minat wisatawan muslim berwisata ke Indonesia. Sertifikasi menurut dia, penting untuk semakin memberikan kepastian akan kehalalan suatu makanan.
Hambatan pengembangan ekonomi halal di Indonesia menurut Anwar, adalah minimnya literasi masyarakat yang menganggap ekonomi syariah hanya sebatas perbankan syariah saja.
“Padahal banyak sektornya seperti wisata, kosmetik, farmasi, dan perhotelan,” jelas dia.
Oleh karena itu, dia mendorong adanya penguatan branding terkait industri halal. Makanan halal menurut dia, perlu didorong brandingnya sebagai makanan yang sehat sementara busana halal bukan hanya menutup aurat, tetapi juga mengutamakan keindahan.
Selain itu, Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center Sapta Nirwandar mengatakan pengembangan industri halal di Indonesia saat ini masih belum terintegrasi. Pengembangannya masih tersegmentasi antar sektor masing-masing.
“Perlu didorong konektivitas antar sektor industri halal seperti antara sektor makanan halal dengan hotel-hotel yang muslim friendly,” jelas Sapta.