Muhammad Latief
19 April 2018•Update: 19 April 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia meminta Amerika Serikat (AS) tidak dimasukkan dalam daftar 16 negara yang dianggap curang, dan menyumbang defisit pada neraca perdagangan negara tersebut.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengajukan permintaan tersebut saat bertemu dengan Duta Besar AS untuk Indonesia Joseph R Donovan di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu.
“Jangan dilihat 2017 lalu, tapi lihat juga 2018. Perdagangan kita meningkat, AS meningkat, Lion Air menandatangani MoU dengan Boeing dan masih banyak lagi. AS juga akan melihat sumber-sumber perdagangan lain dari kita, dan sebaliknya,” ujar Menteri Enggar.
Saat berdiskusi dengan Donovan, keduanya sepakat akan meningkatkan transaksi perdagangan dan investasi di kedua negara. Perwakilan kedua negara setuju untuk menggunakan sistem ‘fair trade, free trade, reciprocal’. Sedangkan untuk investasi, Indonesia menyampaikan prinsip ‘openness dan competitiveness’.
Kementerian dalam negeri AS sebelumnya mengeluarkan daftar 16 negara yang memilki hubungan perdagangan yang tidak seimbang. Indonesia berada pada nomor urut 15 dengan surplus sebesar USD13 miliar terhadap AS.
Defisit AS paling besar disebabkan perdagangan dengan China sebesar USD347 miliar. Berikutnya berurutan adalah Jepang, Jerman, Meksiko, Irlandia, Vietnam, Italia, Korea Selatan, Malaysia, India, Thailand, Prancis, Swiss, dan Taiwan. Di bawah Indonesia, ada Kanada yang mempunyai surplus sebesar USD11 miliar.
Menteri Enggar juga mengatakan, pemerintah telah mengirim surat pada United State Trade Representative untuk meminta pengecualian agar aluminium dan baja dari Indonesia tidak dikenai kenaikan tarif.
Hal itu dikarenakan kedua barang tersebut juga digunakan oleh industri AS sebagai bahan dasar barang-barang ekspor.
Di tempat yang sama Donovan mengatakan Indonesia dan AS sepakat melanjutkan hubungan perdagangan yang adil, fair dan saling menguntungkan.
Secara khusus, AS menantikan Trade and Investment Forum pada Mei tahun ini dan meminta perlakuan bisnis bagi perusahaan AS lain yang berniat menanamkan investasi di Indonesia.
Donovan menilai, AS memperlakukan komoditas Crude Palm Oil (CPO) asal Indonesia dengan baik dan tidak ada tekanan apa pun terhadap produk tersebut. Tahun lalu, produk CPO asal Indonesia naik hingga 54 persen dengan nilai lebih dari USD1 miliar.
“Perdagangan CPO dengan kami merupakan contoh hubungan yang saling menguntungkan. Indonesia memproduksi produk yang dibutuhkan pasar Amerika, dan Amerika memproduksi kedelai yang dibutuhkan Indonesia,” ujar dia.