Muhammad Nazarudin Latief
14 Maret 2019•Update: 14 Maret 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia mematok target ekspor non-minyak dan gas (migas) tahun ini naik sebesar 7,5 persen atau total USD175 miliar, ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Rabu di Jakarta.
“Ini lebih pada realitas di tengah ketidakpastian ekonomi dunia dan perkembangan dari berbagai studi,” ujar Menteri Enggar.
Tahun lalu kinerja ekspor Indonesia tidak tercapai, hanya tumbuh 6,7 persen jauh lebih rendah dari target yang dipatok sebesar 11 persen.
Menurut Menteri Enggar, peningkatan kinerja ekspor non migas adalah pekerjaan besar. Karena itu, membutuhkan sinergi semua pihak yang berkaitan dengan ekonomi dan hubungan luar negeri.
“Misalnya Kementerian Luar Negeri membuka jalan diplomasi dan menyelesaikan perjanjian dagang, penyelesaian sengketa dagang, dan pembukaan pasar-pasar baru,” ujar Menteri Enggar.
Menurut Menteri Enggar, strategi yang akan diambil adalah dengan meningkatkan diplomasi ekonomi, penetrasi ke pasar-pasar nontradisional, realisasi perjanjian perdagangan internasional, dan promosi produk-produk strategis.
Selain itu kata Menteri Enggar, pemerintah juga akan mengkaji ulang regulasi ekspor dan impor secara reguler sehingga perdagangan luar negeri stabil.
Menurut politisi Partai Nasdem ini, peningkatan ekspor juga harus memberikan efek positif pada perdagangan dalam negeri. Misalnya saat terjadi peningkatan nilai tukar, agar dapat segera melakukan ekspor produk unggulan sehingga sektor industri nasional dapat terdorong.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan target tersebut terlalu tinggi mengingat kondisi perdagangan global yang belum stabil.
Perdagangan dunia, menurut Bhima masih diwarnai perang dagang yang makin melebar. Misalnya Amerika Serikat yang mengincar India dan Turki, kemudian Filipina yang mulai membatasi impor sawit dari Indonesia.
“Targetnya terlalu tinggi. Tahun ini 6 persen sudah bagus,” ujar dia.
Dengan demikian, kondisi neraca dagang akan kembali mengalami defisit, namun tidak terlalu dalam karena harga minyak dunia sedang rendah.
Selain itu impor migas tidak sebesar tahun lalu, ujar Bhima.
Tahun lalu, Indonesia mengalami defisit perdagangan terburuk sepanjang sejarah republik. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia tahun lalu tumbuh 20,15 persen menjadi USD188,63 miliar sementara nilai ekspor hanya tumbuh 6,65 persen menjadi USD180,06 miliar. Dengan demikian, defisit perdagangan mencapai USD 8,57 miliar.
Persoalan muncul pada impor sektor pangan, kata Bhima.
Salah satu penyebabnya adalah perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif antara Indonesia dengan Australia.
Menurut Bhima, produk pangan yang akan membanjiri Indonesia salah satunya gandum, garam, sapi dan buah-buahan.
Data dari BPS, impor gandum dari Australia mencapai 5,1 juta ton pada 2017 atau naik 34,2 persen sejak 2013. Sementara impor sapi mencapai 85 ribu ton naik 108 persen sejak 2013.
Impor garam mencapai 2,3 juta ton meningkat 45,5 persen, kemudian impor buah-buahan sebanyak 27 ribu ton naik 22 persen.