Iqbal Musyaffa
05 Mei 2020•Update: 06 Mei 2020
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa konsumsi rumah tangga pada kuartal pertama tahun ini hanya tumbuh 2,84 persen (year on year) sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi hanya 2,97 persen (year on year).
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan karena porsi konsumsi rumah tangga mencapai 58,14 persen.
“Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini sangat anjlok bila dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal pertama tahun 2019 yang masih berada pada posisi 5,02 persen,” ujar Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Selasa.
Bila dirinci berdasarkan komponen, konsumsi pada makanan dan minuman selain restoran masih tumbuh 5,1 persen, melambat dibandingkan kuartal pertama tahun lalu yang sebesar 5,32 persen.
Kemudian, konsumsi pada kesehatan dan pendidikan mampu tumbuh 7,85 persen lebih baik dari kuartal pertama 2019 yang sebesar 5,54 persen. Konsumsi pada perumahan dan perlengkapan rumah tangga tumbuh 4,47 persen lebih baik dari kuartal pertama 2019 yang sebesar 4,39 persen.
Konsumsi pada restoran dan hotel masih tumbuh 2,39 persen, namun melambat dari pertumbuhan pada kuartal pertama 2019 yang sebesar 5,64 persen karena adanya pembatasan aktivitas dan pertemuan serta pariwisata akibat dari penyebaran virus korona (Covid-19).
Selanjutnya, konsumsi pada beberapa komponen lainnya mengalami kontraksi seperti pada pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya yang mengalami pertumbuhan -3,29 persen, jauh lebih buruk dari kondisi pada kuartal pertama 2020 yang sebesar 4,48 persen.
Konsumsi pada transportasi dan komunikasi juga kontraksi -1,81 persen dari sebelumnya 5,13 persen pada kuartal pertama 2019.
“Kontraksi ini akibat dari jumlah penumpang angkutan rel dan udara yang tumbuh negatif,” ujar Suhariyanto.
Pada kuartal pertama 2020, sektor angkutan rel mengalami pertumbuhan minus 6,96 persen, sementara angkutan udara mengalami kontraksi lebih dalam lagi, sebesar minus 13,31 persen.
“Konsumsi rumah tangga yang tumbuh melambat menjadi penting untuk pemerintah menjaga daya beli masyarakat dengan mengendalikan inflasi yang sudah dilakukan dari jauh-jauh hari dengan menjaga pasokan dan distribusi,” lanjut dia.