İqbal Musyaffa
04 Desember 2019•Update: 04 Desember 2019
JAKARTA
Moody’s Investors Service memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia masih akan tertekan hingga 2021 yang terlihat dari pertumbuhan ekonomi di negara-negara anggota G20.
Managing Director and Chief Credit Officer Moody’s Investors Service Michael Taylor mengatakan pertumbuhan ekonomi di seluruh negara G20 pada 2019 sebesar 2,6 persen, kemudian pada 2020 tetap berada di angka 2,6 persen dan akan membaik pada 2021 menjadi 2,8 persen.
Pertumbuhan tersebut melambat dari pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota G20 pada 2018 yang sebesar 3,2 persen.
“Pertumbuhan perdagangan global juga terhenti dan menambah andil bagi melambatnya pertumbuhan ekonomi global,” jelas Taylor dalam diskusi di Jakarta, Rabu.
Selain itu, dia mengatakan pasar di negara-negara berkembang adalah yang paling rentan karena sangat bergantung pada perdagangan global.
Moody’s membagi dua kelompok negara anggota G20 dalam melihat proyeksi pertumbuhan ekonominya.
Untuk kelompok G20 negara maju, diperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini sebesar 1,6 persen yang akan melambat menjadi 1,4 persen pada 2020 dan kembali ke 1,6 persen pada 2021.
Kemudian untuk kelompok G20 negara berkembang diperkirakan sebesar 4,3 persen pada tahun ini kemudian pada 2020 membaik menjadi 4,6 persen dan menjadi 4,8 persen pada 2021.
Taylor mengatakan perlambatan ekonomi masih akan terus terjadi di China pada tahun depan menjadi 5,8 persen dari pertumbuhan ekonomi tahun ini yang diperkirakan sebesar 6,2 persen.
“Pada 2021 ekonomi China diperkirakan terus melambat menjadi 5,7 persen,” kata dia.
Taylor menilai ekonomi China akan terus melambat sebagai akibat dari dinamika penyeimbangan internal dan melemahnya permintaan eksternal.
“Ketidakpastian dalam perselisihan perdagangan dengan AS akan terus membebani sentimen dan ekspor sektor swasta,” jelas Taylor.
Ekonomi AS dalam proyeksi Moody’s untuk tahun 2020 diperkirakan sebesar 1,7 persen melambat dari proyeksi pada 2019 yang sebesar 2,2 persen dan juga jauh di bawah pertumbuhan pada 2018 yang sebesar 3 persen.
Taylor mengatakan pada 2021 ekonomi AS baru akan sedikit membaik menjadi 1,9 persen.
Taylor menambahkan ketegangan perang dagang tersebut membuat banyak ketidakpastian kebijakan perdagangan di masa depan.
“Kami sudah mulai melihat dampaknya sekarang pada keputusan investasi perusahaan dalam hal kepercayaan,” tambah dia.
Dia juga mengatakan sengketa dagang tersebut membuat turbulensi dalam pasar finansial semakin tajam dan juga meningkatkan risiko dalam geopolitik global.