İqbal Musyaffa
03 Januari 2019•Update: 03 Januari 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemerintah mengoreksi prediksi pertumbuhan ekonomi pada 2018 dari 5,17 persen menjadi 5,15 persen.
Angka revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi ini masih jauh di bawah proyeksi yang ditetapkan dalam asumsi APBN 2018 sebesar 5,4 persen.
Meskipun terkoreksi, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan momentum pertumbuhan ekonomi masih terjaga.
Dia mengakui bahwa tahun 2018 bukan tahun yang mudah bagi perekonomian.
“Banyak gejolak yang terjadi dan menyebabkan indikator dan berbagai variabel ekonomi terkena dampaknya,” jelas Menteri Sri dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu sore.
Gejolak ekonomi, menurut dia, juga berasal dari kenaikan suku bunga the Fed yang kemudian direspons Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga acuannya hingga 7 kali sebanyak 175 basis poin.
Menteri Sri menjelaskan kondisi tersebut menyebabkan volatilitas pada arus modal yang banyak keluar meninggalkan negara berkembang termasuk Indonesia sehingga berpengaruh pada investasi.
Nilai tukar menurut dia, juga mengalami perubahan signifikan. Kurs rupiah sampai 31 Desember berada di angka Rp14.481 per dolar AS dengan kurs rata-rata sepanjang tahun Rp14.247 per dolar AS.
Sementara pada asumsi APBN 2018 nilai tukar ditetapkan sebesar Rp13.400 per dolar AS.
Normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat menurut Menteri Sri, juga menjadi tantangan bersamaan dengan menegangnya perang dagang yang menyebabkan dinamika selama 2018.
“Semua kita waspadai di 2018. Dengan gejolak tersebut terlihat ada revisi pertumbuhan ekonomi dengan momentum yang terjaga,” tambah dia.
Gejolak terhadap perekonomian yang membuat terjadinya revisi ke bawah prediksi pertumbuhan ekonomi menurut Menteri Sri, mulai terasa pada Oktober hingga Desember lalu.
Angka revisi menjadi 5,15 persen menurut dia, juga karena didukung oleh pertumbuhan konsumsi pemerintah yang tumbuh 9,7 persen dan investasi rata-rata 7 persen.
Dia menambahkan ketidakpastian ekonomi global juga membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia mengalami revisi ke bawah.
Harga komoditas juga masih sangat bergejolak dan melemah di triwulan akhir 2018, tambah dia.
Menteri Sri menjelaskan Harga minyak WTI turun rata-rata 26,2 persen dari harga tertingginya. Harga minyak Brent juga turun 20,9 persen.
Harga logam turun 2,4 persen, batubara turun 7,2 persen, dan harga komoditas pangan termasuk CPO turun 4,87 persen.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut menjelaskan pada 2018 ini inflasi tetap terjaga di tengah gejolak ekonomi dunia dengan realisasi 3,13 persen year on year atau lebih rendah dari perkiraan banyak kalangan yang menyebut inflasi di level 3,2 persen.
“Kita masih harus tetap waspadai pergerakan akibat lingkungan ekonomi global yang belum pasti,” jelas dia.