26 Oktober 2017•Update: 27 Oktober 2017
ANKARA
Pejabat kesehatan yang bertugas di Bangladesh tengah memberikan penyembuhan bagi pengungsi wanita Muslim Arakan di penampungan Cox's Bazar, Bangladesh.
Aerlyn Pfeil, petugas kesehatan dari Organisasi Dokter Tanpa Batas (MSF), mengatakan para wanita adalah korban kekerasan seksual.
"50 persen dari mereka berusia 18 tahun. Ada juga yang berumur 10, bahkan 9 tahun," kata Pfeil seperi diberitakan The Guardian.
Sebagian besar korban pemerkosaan tidak mau mendatangi klinik karena diancam.
"Dalam wawancara dengan korban, wanita-wanita ini memiliki rasa sakit yang tidak bisa dilupakan,” ujar Pfeil.
Salah satu keinginan terbesar mereka adalah memiliki baju baru. Sebab pakaian mereka kini adalah baju yang sama saat pemerkosaan berlangsung.
Pengungsi wanita lainnya bercerita tentara Myanmar mengumpulkan mereka untuk memilih yang tercantik.
Tentara Myanmar lalu membawa mereka ke suatu tempat untuk diperkosa. "Banyak di antara mereka yang berusia 12-13 tahun," ujar petugas medis yang tak mau disebut namanya.
Seorang wanita berusia 27 tahun yang berhasil melarikan diri dari kota Buthidaung, Arakan, mengatakan tentara Myanmar membunuh ayah dan suaminya. Mereka juga memperkosa adik perempuannya yang berusia 14 tahun.
"Saya menangis ketika membawa adik perempuan saya, tapi saya tidak dapat menghentikan mereka (tentara Myanmar),” ungkap wanita itu.
Ia menuturkan banyak wanita dan anak perempuan diperkosa usai tentara Myanmar meninggalkan desa.
“Saya mencari saudara saya, dan saya menemukan banyak mayat di sana,” jelas dia.
“Saya berhasil menemukan saudara perempuan dalam kondisi sekarat,” ungkap dia