Muhammad Latief
26 September 2017•Update: 26 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan pergerakan magma Gunung Agung, Bali, semakin mendekati permukaan.
“Hal ini terindikasi dengan meningkatnya frekuensi gempa vulkanik dalam, gempa vulkanik dangkal dan gempa tektonik lokal,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Selasa.
BNPB mencatat ada 564 kali gempa vulkanik dalam, 547 kali gempa vulkanik dangkal dan 89 kali gempa teknonik lokal Senin kemarin.
Menurut BNPB jumlah gempa kini lebih banyak dibanding sebelumnya.
Erupsi, kata Sutopo terjadi jika kekuatan dorongan magma cukup besar untuk menjebol sumbatan lava.
Sementara itu Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kasbani mengatakan meski aktivitas vulkanik semakin meningkat, namun pada dasarnya gunung ini masih pada fase transisi dari kegempaan dalam ke kegempaan dangkal (lebih dekat ke permukaan).
Jarak waktu antara fase kegempaan dangkal ke fase kegempaan sangat dangkal tidak dapat dipastikan, begitupun jangka waktu dari kegempaan sangat dangkal ke fase letusan.
"Tidak ada catatan sejarah instrumental untuk membandingkan erupsi sekarang dengan letusan pada 1963,” katanya.
Letusan bisa terjadi dalam hitungan jam hingga hari. Namun, bisa juga terjadi dalam hitungan bulan.
Soal zona bahaya, akan diperluas jika terjadi erupsi. Jika saat ini pada radius 9 km akan diperluas hingga 12 km. Sedangkan untuk sektor utara-timur laut, tenggara-selatan-baratdaya yang sebelumnya dalam radius 12 km, akan diperluas 14 hingga 20 km.
“Tergantung estimasi potensi ancaman bahayanya,” kata Kasbani lagi.