Muhammad Latief
27 September 2017•Update: 28 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sudah ada 75.673 jiwa masyarakat mengungsi akibat kenaikan aktivitas vulkanik Gunung Agung di Bali.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jumlah ini melebihi perkiraan BNPB sebelumnya yang hanya sekitar 62 ribu jiwa.
Malah, jumlah pengungsi juga diperkirakan akan terus betambah karena petugas terus melakukan pendataan.
“Angka 62 ribu waktu itu hanya perkiraan jumlah penduduk seperi yang disampaikan Wakil Bupati Karangasem,”kata Sutopo.
Pengungsi-pengungsi ini, ditempatkan dalam 377 titik pengungsian di 9 kabupaten/kota. Sebarannya adalah di Kabupaten Badung 9 titik (756 jiwa), Kabupaten Bangli 29 titik (4.890 jiwa), Kabupaten Buleleng 24 titik (8.518 jiwa), Kota Denpasar 27 titik (2.539 jiwa), Kabupaten Gianyar 12 titik (540 jiwa), Jembrana 4 titik (82 jiwa), Kabupaten Karangasem 93 titik (37.812 jiwa), Kabupaten Klungkung 162 titik (19.456 jiwa), dan Kabupaten Tabanan 17 titik (1.080 jiwa).
Sutopo mengakui, pihaknya kesulitan menentukan menentukan jumlah penduduk secara pasti karena data penduduk menggunakan basis administrasi desa, sedangkan data radius menggunakan batas daerah berbahaya oleh letusan. Sementara batas radius yang terlihat di peta sulit ditandai di lapangan.
“Masyarakat tidak tahu mereka tinggal di radius berapa, sehingga masyarakat yang tinggal di luar garis radius berbahaya juga ikut mengungsi,” kata dia lagi.
Sutopo menganggap ini hal yang wajar karena juga terjadi saat erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta, pada 2010 lalu. Saat itu pengungsi mencapai 500.000 jiwa, saat radius berbahaya dinaikkan radius berbahaya dari 15 kilometer menjadi 20 kilometer. Padahal di peta, jumlah penduduk di dalam radius 20 kilometer hanya sekitar 200.000 jiwa.
Soal daerah rawan bencana, tetap seperti yang diumumkan sebelumnya, yaitu radius 9 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung ditambah 12 kilometer di sektor utara-timur laut dan 12 kilometer di sektor tenggara-selatan-barat daya.