Pizaro Gozali İdrus
19 September 2018•Update: 20 September 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Duta Besar Indonesia untuk Filipina Sinyo Harry Sarundajang mengatakan kelompok Abu Sayyaf kini sudah terpecah menjadi puluhan kelompok.
Pecahnya kelompok Abu Sayyaf terus berlangsung setelah tewasnya kepala Daesh di Filipina Selatan yakni Isnilon Hapilon pada 2017.
Kini kelompok pecahan Abu Sayyaf gencar melakukan aksi-aksi penyanderaan dengan motif ekonomi.
“Motifnya cari uang dan mendesak perusahaan-perusahaan yang kebetulan memperkerjakan orang-orang Indonesia,” ujar Sinyo dalam konferensi pers pembebasan tiga sandera WNI pada Rabu di Jakarta.
Sinyo menyampaikan motif penculikan kelompok-kelompok Abu Sayyaf ini murni kriminal tanpa memiliki unsur ideologis.
“Banyak yang menghubungkan dengan gerakan garis keras ataupun Daesh, saya kira tidak,” ucap Sinyo.
Namun demikian, Sinyo tak bisa memastikan apakah penyerahan sandera tiga WNI dilakukan dengan tebusan uang.
“Sampai saat ini tidak ada laporan dari Pemerintah Filipina perlu uang tebusan,” jelas Sinyo.
Sinyo menyampaikan Pemerintah Filipina sudah bertekad untuk menumpas kelompok-kelompok kriminal agar kasus penyanderaan tak berulang.
Untuk itu, lanjut Sinyo, komandan militer di Mindanao Barat berupaya melumpuhkan kelompok kriminal ini.
“Saya lihat mereka betul-betul ini menghabisi kelompok ini,” kata Sinyo.
Filipina juga merasa mendapatkan kerugian besar dengan adanya aksi-aksi kriminal di perairan Sulu. Sebab hal tersebut terjadi jalur logistik dari Indonesia dan Malaysia menuju Filipina.
“Instruksi Pemerintah Filipina ini harus ditumpas secara tuntas,” jelas Sinyo.
Sinyo mengaku Presiden Filipina Rodrigo Duterte sangat memberikan perhatian utama atas kasus penyanderaan terhadap WNI.
“Saya setiap saat juga bisa bertemu Duterte,” jelas Sinyo.
Tiga Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok Abu Sayyaf telah berhasil dibebaskan dan dikembalikan kepada keluarga pada Rabu.
Ketiga sandera yang dibebaskan antara lain Hamdan Salim, Subandi Sattuh dan Sudarlan Samansung.
Mereka disandera sejak 18 Januari 2017 saat menumpangi perahu di perairan Pulau Taganak, Provinsi Tawi-Tawi, Filipina selatan.