Hayati Nupus
08 Agustus 2019•Update: 08 Agustus 2019
Sena Guler
ANKARA
Pemerintah Venezuela pada Rabu mengatakan tak akan menghadiri pembicaraan dengan oposisi pekan ini untuk menyelesaikan kerusuhan politik di Amerika Selatan.
Pemerintah tak akan mengirimkan delegasi ke perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Barbados pada Kamis dan Jumat, karena dukungan Presiden Juan Guaido pada sanksi AS, ujar Wakil Presiden Jorge Rodriguez lewat media sosial.
"Presiden Nicolas Maduro memutuskan untuk tak mengirim delegasi pemerintah ke Barbados karena serangan serius, dan berbahaya oleh administrasi Trump terhadap Venezuela, termasuk pemblokiran kegiatan ekonomi, komersial, dan keuangan kami," tulis Rodriguez.
Dia mencatat bahwa Venezuela marah atas dukungan Guaido untuk "tindakan berbahaya" terhadap kedaulatan negara.
Pada Senin, Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk membekukan semua aset pemerintah Venezuela di AS, seiring peningkatan ketegangan yang signifikan dengan Caracas.
Perintah Trump berlanjut dengan melarang semua transaksi dengan pejabat Venezuela kecuali bantuan kemanusiaan, termasuk penyediaan makanan, pakaian dan obat-obatan.
Guaido mendukung keputusan itu, mengklaim bahwa sanksi itu ditujukan untuk "melindungi rakyat Venezuela".
Venezuela diguncang kerusuhan politik sejak 10 Januari, ketika Maduro dilantik untuk masa jabatan kedua setelah pemungutan suara yang diboikot oposisi.
Ketegangan meningkat pada 23 Januari, ketika pemimpin oposisi Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden sementara, namun Maduro menolak seruan untuk mundur.
Dia malah menuduh AS mengatur kudeta terhadap pemerintahnya, dengan mengatakan dia terbuka untuk berdialog dengan oposisi.
Hampir 5.000 orang meninggalkan Venezuela setiap hari karena "ketidakstabilan dan ketidakpastian" di tengah krisis politik dan ekonomi.
Selain itu, 3 juta rakyat Venezuela meninggalkan negara itu sejak 2015, menurut badan pengungsi PBB.
Rusia, China, dan Iran menyatakan dukungannya pada Maduro, seperti halnya Turki.
Spanyol, Inggris, Prancis, Swedia, Jerman, Jepang, dan Denmark bergabung dengan AS, Kanada, dan sebagian besar negara Amerika Latin untuk mengakui Guaido sebagai pemimpin sementara Venezuela.
Bulan lalu, pemerintah Venezuela dan oposisi setuju untuk memulai pembicaraan di Barbados di bawah mediasi Norwegia.
Pembicaraan antara pemerintah Venezuela dan oposisi dilakukan di Oslo, Norwegia pada Mei tapi tak membuahkan hasil.
*Laporan oleh Muhammed Emin Canik di Buenos Aries