İqbal Musyaffa
28 Maret 2018•Update: 29 Maret 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Wakil Presiden Indonesia periode 2009-2014 Boediono pada saat peluncuran buku Laporan Perekonomian Indonesia 2017 di Jakarta, Rabu, mengatakan Bank Indonesia (BI) perlu belajar beberapa hal dari orde baru.
“BI dan pemerintah bisa belajar dari orde baru terkait fokus, kontinuitas, koherensi, dan rasionalitas dalam kebijakan perekonomian yang dilakukan,” ujar dia.
Menurut dia, BI dan pemerintah perlu melihat pengalaman sejarah bangsa di bidang ekonomi pada orde baru.
“Indikator sosial ekonomi kita sangat baik. Ekonomi tumbuh 7 persen per tahun selama 30 tahun. Kemiskinan tahun 1970 sekitar 60 persen namun pada 1996 menjadi 11 persen. Ada sesuatu yang menonjol di perekonomian,” jelas Boediono.
Indikator sosial seperti pendidikan dan kesehatan di era orde baru, menurut dia, juga menunjukkan perbaikan.
“Bagi kita sangat penting untuk mempelajari hal positif saat itu tanpa perlu kembali ke masa itu. Kita perlu menanyakan hal positif apa yang bisa diterapkan di masa sekarang,” tegas dia.
Suasana politik dan administrasi sekarang, menurut wakil presiden era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, sangat berbeda dengan masa-masa pemerintahan era Presiden Soeharto dahulu. Meski begitu, menurut dia, ada hal fundamental dalam prestasi perekonomian yang bisa diikuti, yaitu kebijakan ekonomi yang efektif.
Boediono mengatakan, pada era orde baru bisa dirasakan ada kebijakan ekonomi yang efektif karena ada kontinuitas dalam pelaksanaan dan konsepsinya. Kemudian juga ada fokus yang jelas dan kebijakan yang koheren sehingga menghasilkan outcome baik.
“Ini terjadi karena memang dalam suasana sistem politik saat itu tidak seperti sekarang full demokrasi yang memang diinginkan bangsa kita. Tapi kita tidak perlu kembali ke orde baru,” lanjut Boediono.
Boediono juga mengatakan, BI merupakan salah satu institusi yang sudah menjalankan kebijakan secara koherensi dan berkelanjutan meskipun ada pergantian pimpinan.
“Tidak semua instansi publik punya kebiasaan memelihara pengalaman di masa lampau untuk dipelajari seperti BI,” lanjut dia.
Kemudian terkait kondisi ekonomi saat ini, Boediono mengatakan salah satu tantangan yang paling mendasar adalah untuk memperbaiki kinerja kebijakan ekonomi secara menyeluruh.
“Perbaikan ini memerlukan hal dan langkah yang mendasar. Ini kembali pada pentingnya belajar dari pengalaman sejarah, apa yang kita alami, plus minusnya,” imbuh Boediono.
Selanjutnya, dia berharap lingkungan dan suasana politik dalam jangka panjang bisa diperbaiki untuk mewujudkan kebijakan ekonomi yang fokus dan berkelanjutan.
“Saya rasa banyak yang bisa kita lakukan untuk efektifkan kebijakan ekonomi yang bisa kita tingkatkan dalam konteks perpolitikan saat ini dengan adanya siklus pilpres lima tahunan,” urai dia.