Muhammad Latief
JAKARTA
Para ekonom menyarankan pemerintah mendorong pembangunan industri manufaktur untuk menggenjot ekspor agar bisa menutup defisit dari impor migas.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Mohammad Faisal mengatakan defisit perdagangan yang terjadi tiga bulan berturut-turut dari Desember 2017 hingga Februari tahun ini mengindikasikan lemahnya kinerja industri manufaktur, terutama industri berorientasi ekspor.
Menurut Faisal, Indonesia hingga kini masih bergantung pada ekspor komoditas, padahal negara tetangga yang mempunyai kondisi ekonomi relatif sama seperti Vietnam, Malaysia dan Thailand sudah berangsur beralih ke ekspor manufaktur.
“Ekspor manufaktur yang kuat akan meredam terjadinya defisit perdagangan,” ujar dia saat dihubungi Anadolu Agency, Jumat.
Menurut Faisal, ekspor manufaktur dalam tiga bulan terakhir mengalami kontraksi hingga 11 persen. Pada dari November yang masih sebesar USD11,5 miliar menjadi USD19,3 miliar pada Februari 2018.
Dalam setahun terakhir, yakni Maret 2017 hingga Februari 2018, ekspor manufaktur tumbuh lemah sebesar 12 persen. Di lain sisi, pada periode yang sama, impor tumbuh lebih cepat sebesar 18,7 persen. Bahkan, dalam tiga bulan terakhir pertumbuhan impor mencapai 23,7 persen.
Faisal menambahkan sebagian besar impor memang didorong oleh belanja bahan baku dan bahan penolong. Hal ini mengindikasikan terjadinya peningkatan aktivitas industri manufaktur di dalam negeri.
“Tapi hal ini juga menunjukan tingginya tingkat ketergantungan industri domestik terhadap bahan baku impor,” ujar dia.
---Hilirisasi komoditas dan ekspor otomotif
Dalam jangka menengah, kata Faisal, Indonesia menurut bisa mengembangkan industri turunan dari komoditas. Seperti pengolahan Crude Palm Oil (CPO) menjadi produk jadi seperti sabun dan minyak goreng.
Dalam waktu dekat, kata Faisal, Indonesia harus menguatkan kinerja sektor otomotif. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) ekspor otomotif Indonesia pada 2017 mencapai 231.000 unit ke berbagai negara.
Ekspor otomotif, menurut Faisal bisa meningkatkan kinerja ekspor dalam waktu cepat karena Indonesia sudah cukup mumpuni dalam industri ini. Namun, masih tersedot untuk memenuhi pasar dalam negeri.
Catatannya, industri otomotif harus bisa menyesuaikan diri dengan selera kendaraan masyarakat dunia.
“Thailand mengandalkan sedan dan cocok untuk ekspor. Indonesia harusnya tidak lagi mengandalkan produksi kendaraan jenis MPV,” ujar dia.
Sementara itu Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira mengatakan pemerintah dan pengusaha perlu merumuskan strategi subsitusi bahan baku impor agar industri dalam negeri tidak bergantung pada bahan baku impor dalam jangka menengah.
Defisit perdagangan, diakhiri jika bisa menggenjot kinerja ekspor. Namun, di tengah melemahknya harga komoditas, terutama CPO yang berkontribusi terhadap 15 persen total ekspor, surplus neraca perdagangan sulit diramalkan.
Kondisi ini, menurut Bhima menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera menggenjot daya saing industri manufaktur secara komprehensif sebagai agenda utama.
Pembangunan industri ini, menurutnya tidak hanya memperkuat neraca perdagangan, tetapi juga untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi.
news_share_descriptionsubscription_contact



