JAKARTA
Indonesia tidak akan menutup tahun 2020 dengan mulus pada sektor ekonomi. Diperkirakan ekonomi Indonesia masih cukup berat untuk tumbuh menjadi positif.
Saat ini Indonesia resmi masuk ke fase resesi pada kuartal ketiga yang kembali terkontraksi 3,49 persen, sedikit membaik dari kontraksi pada kuartal kedua minus 5,32 persen.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan penurunan kontraksi ekonomi Indonesia saat ini masih belum terlalu besar seperti yang terjadi di beberapa negara.
Dia mengatakan kontraksi ekonomi AS membaik dengan pesat dari minus 9 persen menjadi minus 2,9 persen, kemudian Hongkon membaik dari minus 9 persen menjadi minus 3,4 persen.
Begitu juga dengan Uni Eropa yang membaik dari minus 13,9 persen menjadi minus 3,9 persen, dan Singapura dari minus 13,3 persen menjadi minus 7 persen.
“Banyak negara penurunan kontraksinya sudah lebih dari separuh, sementara penurunan kontraksi kita relatif lambat,” ujar Tauhid kepada Anadolu Agency, Jumat.
Dia mengatakan pada kuartal keempat kemungkinan Indonesia masih akan terkontraksi dalam kisaran minus 2 persen hingga minus 3 persen.
Tauhid mengatakan konsumsi pemerintah bisa terus didorong untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi dan mendorong konsumsi rumah tangga, walaupun sulit untuk membuat konsumsi rumah tangga tumbuh positif karena penurunan daya beli sudah terlampau dalam.
Pertumbuhan investasi menurut dia juga masih akan terkontraksi sehingga sulit untuk mengejar perbaikan investasi pada kuartal keempat karena daya beli masyarakat yang juga belum pulih.
“Kalau pertumbuhan di kuartal tiga bisa minus di bawah 2 persen, mungkin seluruh tahun ekonomi kita bisa tumbuh positif, namun kita hanya tumbuh minus 3,49 persen,” jelas Tauhid.
Oleh karena itu, dia mengatakan akan membutuhkan usaha yang sangat keras untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini masuk ke zona positif.
Kondisi terburuk perekonomian sudah terlampaui
Walaupun masih terkontraksi, namun Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kondisi terburuk dari perekonomian Indonesia sudah terlampaui pada kuartal kedua lalu.
Selain itu, dia mengatakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga dibandingkan dengan kuartal kedua juga sudah tumbuh positif 5,05 persen.
“Ini menunjukkan proses pemulihan ekonomi dan pembalikan arah dari aktivitas ekonomi nasional menuju arah zona positif,” jelas Menteri Sri Mulyani.
Dia mengatakan seluruh komponen pertumbuhan ekonomi dari pengeluaran maupun produksi mengalami peningkatan yang didorong oleh peran stimulus fiskal dan instrumen APBN dalam penanganan pandemi Covid-19 dan program pemulihan ekonomi nasional.
Menteri Sri Mulyani mengatakan penyerapan belanja negara terakselerasi di kuartal ketiga dengan pertumbuhan 15,5 persen yang ditopang oleh realisasi bantuan sosial dan dukungan dunia usaha.
Dia menambahkan rilis BPS mengonfirmasi bahwa percepatan realisasi belanja negara yang pesat pada kuartal ketiga telah membantu peningkatan pertumbuhan konsumsi pemerintah menjadi 9,76 persen secara tahunan pada kuartal ketiga.
“Angka ini meningkat tajam dari kuartal kedua lalu yang terkontraksi 6,9 persen secara tahunan,” imbuh Menteri Sri Mulyani.
Selain itu, dia mengataka konsumsi rumah tangga juga mulai menunjukkan tren perbaikan di kuartal ketiga walaupun masih tumbuh minus 4,04 persen, namun relatif membaik dari kuartal kedua yang minus 5,52 persen karena dukungan belanja pemerintah yang meningkat tajam.
Namun, dia mengatakan perbaikan konsumsi rumah tangga masih tertahan yang terbatas karena konsumsi kelas menengah atas juga masih terbatas akibat Covid-19 yang belum berakhir, sementara karakteristik belanja masyarakat pada kelompok ini sangat sensitif terhadap mobilitas yang terbatas akibat pandemi.
Menteri Sri Mulyani menambahkan upaya perbaikan penanganan Covid-19 dari berbagai indikator dan usaha penemuan serta pemberian vaksin diharapkan mampu mengembalikan tren konsumsi rumah tangga utamanya pada kelompok menengah atas.
“Perbaikan tren konsumsi rumah tangga kelompok menengah atas akan menjadi pendorong perbaikan pertumbuhan di kuartal keempat dan seterusnya,” lanjut dia.
Kemudian, Menteri Sri Mulyani menyoroti pertumbuhan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pada kuartal ketiga yang membaik dari minus 8,61 persen pada kuartal kedua lalu menjadi minus 6,48 persen pada kuartal ketiga.
Dia berharap investasi akan semakin membaik seiring usaha pemerintah memperbaiki iklim investasi dan perbaikan beragam regulasi yang memudahkan dunia usaha.
“Perbaikan kinerja ekonomi nasional dari konsumsi dan investasi diharapkan terus berjalan dan terakselerasi,” ujar Menteri Sri Mulyani.
Dia mengatakan perbaikan juga terlihat dari indikator Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur yang pada kuartal ketiga sebesar 48,3 membaik dari kondisi kuartal kedua yang sebesar 31,7.
Indeks penjualan ritel juga berangsur pulih dengan pertumbuhan minus 9,6 persen di kuartal ketiga, membaik dari minus 18,2 persen di kuartal kedua.
“Posisi terburuk akibat Covid-19 sudah kita lewati di kuartal kedua dan pemerintah akan makin fokus untuk akselerasi tren pemulihan ekonomi menuju zona positif,” tambah Menteri Sri Mulyani.
news_share_descriptionsubscription_contact
