Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan kinerja ekspor Indonesia pada Juli mengalami peningkatan signifikan sebesar 31,02 persen bila dibandingkan dengan nilai ekspor bulan sebelumnya.
Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan nilai ekspor Juli tercatat sebesar USD15,45 miliar sementara pada Juni hanya sebesar USD11,79 miliar.
Kenaikan ekspor pada Juli terjadi pada ekspor migas yang meningkat 115,19 persen dari USD0,74 miliar pada Juni menjadi USD1,61 miliar.
Begitupun pada ekspor nonmigas terjadi peningkatan 25,33 persen dari USD11,05 miliar pada Juni menjadi USD13,84 miliar.
“Kita pahami karena pada Juni kemarin ada libur panjang Ramadan dan Idul Fitri, hampir sepertiga hari kerja di Juni hilang dan pada Juli situasi kembali normal,” ungkap Suhariyanto, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Dia menjabarkan kenaikan ekspor terjadi pada seluruh sektor antara lain sektor migas yang meningkat 115,19 persen secara bulanan dan 13,35 persen secara tahunan dengan nilai USD1,61 miliar.
“Pertumbuhan ini terjadi dengan adanya peningkatan ekspor minyak mentah, peningkatan nilai minyak, dan ekspor gas,” jelas Suhariyanto.
Kemudian peningkatan ekspor terjadi pada sektor pertanian sebesar 50,16 persen secara bulanan dan 4,51 persen secara tahunan dengan nilai USD0,31 miliar.
“Peningkatan ekspor pertanian terjadi pada tanaman obat, kopi, sarang burung walet, kakao, dan cengkeh,” urai dia.
Ekspor pertambangan
Selanjutnya ekspor pada sektor industri pengolahan pada Juli senilai USD11,51 miliar meningkat 27,47 persen secara bulanan, namun mengalami penurunan 2,75 persen dari Juli tahun lalu.
Peningkatan ekspor secara bulanan pada Juli terjadi dengan adanya pertumbuhan ekspor pakaian jadi dari tekstil, kendaraan bermotor, ekspor minyak kelapa sawit, bubur kertas, dan peralatan listrik.
Kondisi yang sama juga terjadi pada ekspor sektor pertambangan bulan Juli yang senilai USD2,02 miliar mengalami pertumbuhan 11,78 persen dari bulan Juni, sementara bila dibandingkan Juli tahun lalu mengalami penurunan 26,07 persen.
Suhariyanto melanjutkan komoditas yang mengalami peningkatan ekspor pada bulan Juli bila dibandingkan Juni antara lain kendaraan dan bagiannya senilai USD302,2 miliar, mesin atau peralatan listrik meningkat USD221,2 miliar, dan bahan bakar mineral USD188,8 miliar.
Sementara komoditas yang mengalami penurunan ekspor pada Juli bila dibandingkan Juni antara lain perhiasan atau permata sebesar USD116,4 juta, timah USD78,8 miliar, dan kapal laut USD25,2 miliar.
Dia menambahkan bila dilihat berdasarkan negara, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat pada Juli meningkat USD507,2 juta dari bulan Juni.
Begitupun ekspor ke China mengalami peningkatan USD469,7 juta dan ekspor ke India meningkat USD288,1 juta.
Sementara ekspor Indonesia mengalami penurunan dengan tujuan Singapura sebesar USD80,8 juta, ekspor ke Kazakstan turun USD38,5 juta, dan juga ekspor ke Mozambik turun USD13,4 juta.
Suhariyanto mengatakan kinerja ekspor pada bulan Juli secara keseluruhan masih lebih lamban dari Juli tahun lalu dengan penurunan nilai ekspor 5,12 persen dari nilai USD16,28 miliar.
“Selain masalah eksternal berupa melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan perang dagang, Indonesia masih memiliki masalah domestik yang perlu diselesaikan,” ungkap dia.
Masalah tersebut menurut dia adalah tantangan untuk terus mendorong hilirisasi sehingga bisa memberikan nilai tambah pada ekspor Indonesia dan juga untuk menciptakan lapangan pekerjaan.