Muhammad Nazarudin Latief
04 Maret 2019•Update: 04 Maret 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia mencanangkan industri hilir produk batu bara untuk menurunkan ketergantungan impor, ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, Minggu.
Menteri Jonan dan koleganya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, mencanangkan industri hilirisasi batu bara di PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.
Menurut Jonan, pabrik ini nanti akan membangun fasilitas gasifikasi batu bara kalori rendah menjadi syngas. Kemudian pengolahan syngas menjadi dimethyl ether (DME),pengolahan syngas menjadi urea untuk menghasilkan pupuk.
Fasilitas lain adalah pengolahan syngas menjadi polypropylene untuk bahan baku plastik.
"Terus terang, tidak banyak kegiatan pertambangan batu bara yang besar di Indonesia itu memiliki semangat hilirisasi," ungkapnya dalam siaran pers, Senin.
Jika industri hilirisasi sudah berjalan, Jonan menjelaskan bahwa salah satu produknya, yakni DME, bisa menggantikan LPG sehingga bisa mengurangi impor produk tersebut.
"Dalam setahun, impor LPG Indonesia sekitar 4,5 - 4,7 juta ton senilai Rp40 triliun. Dengan DME ini nanti impor kita bisa berkurang," ujar Menteri Jonan.
Menurut Menteri Jonan, ini peluang besar yang harus dimaksimalkan dengan memproduksi DME dalam skala besar.
“Bikin target satu juta ton mengurangi impor LPG, bisa di mix (campur) juga dengan LPG, mungkin 25% DME atau 50% nantinya," ujar dia.
Hilirisasi batubara ini merupakan kelanjutan dari Head of Agreement (HoA) antara PTBA, Pertamina, Pupuk Indonesia, dan Chandra Asri Petrochemical untuk pembangunan Coal to Chemical pada 8 Desember 2017. Nilai proyek ini sebesar USD3,1 miliar dan ditarget rampung dalam 3 tahun ke depan atau 2022.