İqbal Musyaffa
10 Oktober 2018•Update: 10 Oktober 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia dalam diskusi panel Empowering Women in the Workplace yang diselenggarakan IMF dalam rangkaian acara IMF-WBG Annual Meetings 2018 di Bali, Selasa, menekankan pentingnya kesetaraan gender di lingkungan kerja.
Diskusi panel ini diselenggarakan untuk menyoroti ketidakadilan gender yang telah mengakibatkan terhambatnya potensi pembangunan negara, ekonomi, dan bahkan perusahaan- perusahaan dalam menghadapi tantangan dewasa ini.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan tanpa adanya bantuan dari kebijakan yang dapat meringankan beban para wanita, maka menggaungkan kesetaraan gender dalam angkatan kerja akan menjadi sangat sulit.
Menteri Sri memaparkan bahwa kontribusi perempuan memberi manfaat baik untuk keluarga, ekonomi, dan masyarakat.
“Di Indonesia, tidak ada larangan bagi perempuan untuk bekerja, tetapi masih ada pandangan patrialisme di masyarakat. Wanita masih dinilai sebagai sumber kedua pencari sumber penghasilan bagi keluarga,” ungkap Menteri Sri.
Dia menambahkan banyak perempuan muda yang sangat semangat saat mulai bekerja. Tetapi kemudian harus berhenti bekerja saat mulai menikah, hamil, dan melahirkan. Mengurus rumah tangga dipandang sebagai tugas utama perempuan.
“Mereka harus membawa peran sebagai seorang ibu, dan pekerjaan domestik rumah tangga dibebankan kepada perempuan,” lanjut dia.
Menteri Sri menjelaskan institusi Kementerian Keuangan telah menjadi best practice dan mendapatkan penghargaan, karena telah menyediakan berbagai fasilitas untuk pekerja perempuan, misalnya ruang menyusui dan tempat penitipan anak.
“Dengan demikian kita membantu mengurangi perasaan beban pada pekerja perempuan,” ujar Menteri Sri.
Lebih lanjut Menteri Sri menambahkan masih ada stereotip bahwa perempuan lemah di bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam.
“Padahal saya mendapati bahwa nilai akademis mereka saat kuliah tinggi, tetapi tantangannya adalah bagaimana mereka dapat survive saat masuk dunia kerja,” imbuh dia.
Dia menceritakan bahwa, pada saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games baru-baru ini. pada cabang olah raga yang dipandang didominasi oleh atlet laki-laki, ternyata sumbangan medali emas justru banyak berasal dari atlet perempuan.
Oleh karena itu, Menteri Sri mendorong institusi kerja untuk menjadikan lingkungan kantornya ramah bagi wanita. Hal ini agar para wanita dapat bekerja dengan nyaman dan dapat menunjukan seluruh potensi yang dimiliki.
Pembicara lain dalam diskusi tersebut, Managing Director IMF Christine Lagarde juga menyoroti bahwa saat ini dunia sedang menghadapi era teknologi tinggi (high-tech) yang tentu akan berpengaruh cukup besar terhadap keberadaan perempuan dalam angkatan kerja.
Efek ini menurut dia, bukan karena perempuan bersifat minoritas, akan tetapi karena mereka bekerja dalam bidang pekerjaan yang dapat diotomatisasi.
“Sehingga teknologi mampu menimbulkan resiko besar terhadap jumlah pekerjaan yang diisi oleh perempuan,” ungkap dia.
Senada dengan ini, Executive Secretary UN Economic Commission for Africa Vera Songwe mengatakan bahwa sangat penting untuk melindungi wanita dan apa yang mereka lakukan dengan ide mereka dan dengan siapa mereka ingin melakukannya, sehingga wanita dapat berkembang dan lebih meningkatkan peran ide intelektual mereka.
“Kita telah meningkatkan akses wanita di Tanzania terhadap listrik dan membuat tingkat tenaga kerja wanita menjadi naik. Wanita juga membutuhkan akses terhadap pembiayaan, teknologi, dan jasa,” lanjut Vera.