İqbal Musyaffa
31 Mei 2018•Update: 31 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat paripurna DPR RI di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa pemerintah terus memerhatikan dinamika ekonomi dan geopolitik global dalam merumuskan strategi dan arah kebijakan pembangunan yang diselaraskan dengan arah kebijakan fiskal tahun 2019.
“Kita pertimbangkan dinamika ekonomi global dan juga domestik agar kita selalu mampu menjaga stabilitas dan keamanan perekonomian serta kemajuan pembangunan,” ungkap Menteri Sri.
Perekonomian dunia menurut dia saat ini bergerak ke arah keseimbangan baru (a new normal). Tren perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh dampak arah kebijakan di Amerika Serikat (AS) yang secara fundamental berubah.
“Seiring dengan semakin pulihnya perekonomian AS yang menyebabkan kecenderungan peningkatan laju inflasi serta penurunan tingkat pengangguran di AS, menyebabkan Bank Sentral AS (Federal Reserve) melanjutkan normalisasi kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuannya serta kecenderungan pengetatan likuiditas,” urai dia.
Kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve menurut Menteri Sri diperkirakan akan terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan, dari semula kenaikan sebanyak 3 kali menjadi 4 kali.
“Ini berarti terjadi kenaikan suku bunga dolar AS secara lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya. Selain itu, Pemerintah AS juga menerapkan kebijakan fiskal yang ekspansif,” urai Menteri Sri.
Kebijakan pemotongan pajak dan penambahan belanja AS menurut dia mendorong kenaikan defisit fiskal secara cukup tajam. Hal tersebut menimbulkan potensi tambahan penerbitan US Treasury Bill untuk menutup defisit anggaran yang diperkirakan mencapai 4 persen dari produk domestik bruto (PDB) AS.
“Kebijakan ini juga telah menyebabkan kenaikan imbal hasil surat berharga negara tersebut,” imbuh dia.
Selain perkembangan ekonomi AS, Menteri Sri juga mengungkapkan terdapat beberapa sumber risiko ketidakpastian global. Di antaranya adalah potensi perang dagang AS dan Tiongkok, perkembangan perjanjian nuklir AS dengan Iran, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Selain itu, perkembangan politik negara-negara penghasil minyak seperti Venezuela dan perkembangan di Semenanjung Korea juga menjadi perhatian pemerintah.
“Perkembangan-perkembangan ini memicu perubahan yang cepat pada harga minyak dan komoditas global,” jelas dia.
Selain itu, juga memicu gejolak di pasar keuangan global dalam bentuk arus modal kembali ke AS, pengetatan likuiditas global, dan penguatan dolar AS. Pada gilirannya, kondisi-kondisi tersebut memengaruhi prospek ekonomi dan perdagangan global.
“Kita memerhatikan dengan saksama perkembangan sektor keuangan yang memburuk di Argentina, Turki, dan beberapa hari terakhir kita mulai mendengar potensi kenaikan signifikan imbal hasil surat berharga Italia,” ungkap dia.
Proses pergerakan menuju keseimbangan baru tersebut menurut Menteri Sri diperkirakan masih akan berlanjut hingga beberapa tahun ke depan.
“Sebagai bagian dari perekonomian global, sudah tentu perekonomian Indonesia tidak luput dari dinamika yang sedang terjadi,” imbuh dia.